Rabu, 25 Desember 2013

Kisah Inpiratif : Berdoalah, Allah akan kabulkan!

Sengaja cerita ini saya ketik ulang yang saya dapatkan dari salah satu kawan di grup WA. Semoga teman-teman pembaca dan terutamanya diri saya mampu mengambil sebuah pelajaran dari cerita tersebut. Dan menambah iman dan taqwa teman-teman (red. dan saya) bahwa tidak ada do'a yang tertolak oleh Allah subhana wata'ala, yang ada penundaan dalam penijabahan sebuah doa.

Tidak ada jalan buntu dalam kehidupan ini yang ada kita tak mau berjalan mencari jalan lain. (ngejlebbb banget, guwe banget 哈哈哈哈)
Selamat membaca... Keep doing n praying ^^

=========================================================


Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata:

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.  Dia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di Kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun dan putriku telah berusia empat tahun. Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke rumah sakit, dia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasannya ia mengalami kelumpuhan otak. 95% organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa') tentang ayahnya yang sangat dia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya.


Kami senantiasa bergantian menjenguk di Rumah Sakit dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian Syaikh-aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak aturan tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama dia masih ada di atas muka bumi ini sebelum dia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah (mendidik) putri kecilku. Aku memasukkannya ke sekolah tahfidz Al-Qur'an hingga akhirnya iapun menghafal Al-Qur'an di usianya yang belum genap 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku kadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, dia senantiasa sholat pada waktunya, dia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, dia meruqyah ayahnya dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya. Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : "Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku". Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.  

Putriku bercerita:

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqarah hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat sesuai yang Allah tetapkan untukku. Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, "Bangunlah...!!! Bagaimana engkau tidur sementara Ar Rohman (Allah) terjaga? Bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini?"

Akupun bangun, seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan. Lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa) dan memandangi ayahku - sementara kedua mataku berlinang air mata. Aku berkata dalam doaku...

"Yaa Rabku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup), Yaa 'Adziim (Yang Maha Agung), Yaa Kabiir (Yang Maha Tinggi), Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih), Yaa Rahiim (Yang Maha Penyayang), ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-Mu, dia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami memuji Engkau dan kami beriman dengan keputusan dan ketetapan-Mu. Yaa Allah... sesungguhnya ia berada di bawah kehendak-Mu dan kasih sayang-Mu. Wahai Engkau yang telah menyembuhkan Nabi Ayyub dari penderitaannya dan telah mengembalikan Nabi Musa pada Ibunya. Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan Nabi Ibrahim, sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya. Yaa Allah sesungsuhnya mereka telah menyangka bahwasannya tidak mungkin lagi sembuh, Yaa Allah milik-Mu lah kekuasaan dan keagungan sayangilah ayahku, angkatkanlah penderitaanya"

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh. Tiba-tiba ada suara lirih menyeru, "Siap engkau? Apa yang kau lakukan di sini? Akupun bangun karena suara tersebut lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun lalu aku kembali ke kanan dan ke kiri, ternyata yang bersuara adalah ayahku.

Maka akupun tak kuasa menahan diriku lalu aku bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia. Sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia berkata, "Ittaqilah Takutlah engkau kepada Allah), engkau tidak halal bagiku."
Aku berkata, "Aku ini putrimu Asmaa". Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : "Subhaanallahu…". Dokter yang lain dari Mesir berkata, "Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…". Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, "Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..?

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa' akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do'a, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo' kecuali do'a. Barang siapa yang menjaga syari'at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai 'ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

-Majlis Ta'lim Lin Nisaa'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar