Cerita ini non fiktif belaka, memang benar-benar dilakukan oleh para pelaku utama dalam cerita ini. 100% nyata walaupun sudah digubah dan disesuaikan dengan jaman saat penulis menyelesaikan tulisan ini. Hhiihihihi. Sebenarnya saya hanya ingin menyajikan kisah yang pernah terjadi saat saya dan teman-teman duduk di bangku semester pertama. Saya hanya mencoba mengkeseinambungkan antara kisah bubur sum-sum ini dengan berat badan seseorang yangmana jika dirunut hukum kekalan energy adalah acuan perhitungannya. Adakah korelasinya? Ya, ada. Silahkan baca short story ini dan temukan postulat baru yang menggebrak dunia. Hehehe. Inilah ceritanya, selamat menikmati dan saya tunggu komentarnya. Hehee
Tokoh yang terlibat dalam cerita ini adalah saya as Asih, Eka Desiana disingkat Eka-De, Eka Prakarsa disingkat Eka-Pe, Annisa Tufika disingkat Osi (ko ndak nyambung singkatannya) dan finally is Pradini (red Dini) sebagai ketua rombongan bunga matahari dan Alfin sebagai sekretaris kerajaan. hehehe
@ Rektorat lantai 8, inilah basecame kami saat awal-awal jadi cecunguk TEUB, saya dan teman-teman sering melepas lelah disini, sekedar menunggu pergantian matakuliah atau menunggu acara wajib lapor mingguan. Suasana surau yang begitu melekat, belum juga hempasan angin sepoi-sepoi dan pemandangan seluruh kampus yang tampak jelas sekali, semua itu sudah menjadi ciri khas tempat ini. Pernah kami melakukan permainan tebak orang dari postur tubuh mereka. Kebetulan sekali gedung rektorat agak dekat dengan tempat kuliah kami jadi tampak jelas kalau ada orang berkeliaran di sekitar gedung kuliah. Satu per satu kami mampu menebak siapa dia gara-gara postur dan gaya berjalan mereka. Memang teman-teman G-force mempunyai keunikan sendiri-sendiri. Ada yang berisi, ada yang penuh dengan tulang, ada yang kelebihan gizi, dan ada juga yang kurang angin, yang kelebihan angin juga banyak…hehe.
Sepertinya sudah mengandung jenuh kami berada di basecame saat menuju gedung kuliah tercinta. Sambil ngelamun-ngelamun g jelas, tiba-tiba ibu ketua (red. Dini) mengemukakan ide untuk beli bubur sum-sum. Kira-kira seperti inilah perbincangannya.
Dini: “Rek, yuk beli beli bubur sum-sum”
Bareng2: “Dimana Din?”
Dini: “di deket ITN”
Asih: “Jauh g Din dari sini?”
Dini: “G ko, deket. Enak banget pokoknya, murah lagi”
Bareng2: “Oke lah kalo begitu”
Sambil berceloteh mulai A sampai Z akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Dihitung-hitung jarak yang ditempuh 1,5 km dengan waktu tempuh 25 menit. Mulailah kami memesan menu utama, bubur sum-sum komplit jenang grandul dan jenang ketan hitam. Yang bikin kami shock adalah celotehan dari Eka-Pe. “O bubur iki tah, tak kiro sum-sum sapi beneran”, respon Eka-Pe dg oonnya. “wakakaka, owalah ka’ ka’ wong Mbatu ora ngerti bubur sum-sum” jawab siapa y? Saya lupa. Hehehe. Memang terdengar janggal jika orang Malang tidak tahu dengan bubur sum2, ya mungkin dia lebih sering berkecinambung dengan bubur ayam jadi tak tahu menahu tentang bubur sum-sum. Piss ka’ c\/>
Satu mangkok ini benar-benar ndak nendang buat perjalanan yang cukup melelahkan ini. Tapi Alhamdulillah bisa merasakan bubur yang enak dengan harga terjangkau. Kalau g salah c IDR 2000. Pulanglah kami menuju jalan yang benar.
(cerita tambahan)
Dalam perjalanan, kami berfikir tentang energy yang dihasilkan oleh bubur sum-sum dengan energy yang dikeluarkan. Kami, ups bukan, tapi saya, mereka tidak ada hubungan dengan ide gila ini, tapi mereka mempunyai andil (makasudnya..). dengan melakukan pendekatan sederhana yaitu mengarah pada hokum kekelan energy bahwa Energi system= Energi input – Energi output ….(eq. 1).
Karena energy pada system mendekati 0 maka, Ein = Eout
Ein = energy yang dihasilkan oleh bubur sum-sum
Eout = energy kinetic yang dilakukan saat perjalanan pulang + Epotensial. Karena tidak melakukan pergerakan pindah ketinggian makan EP= 0. Dan dari hasil integrasi gaya (F) terhadap jarak (x) di dapatkan persamaan Ek=1/2 m v2 ……….. (eq. 2)
Energi bubur sum-sum (Esum2) = ½ m v2 …….. (eq. 3)
Misalkan saja analisis ini pada diri saya. Tentunya kita harus tahu variable kalori penyusun bubur sum-sum, jarak dan waktu. Mari kita menganalisis bulk and material penyusun semangkok bubur sum-sum yang di jelaskan sebagai berikut:
1 centong bubur sum-sum mengandung 20,5 kkalori
1 centong grendul mengandung 22,1 kkalori
1 centong jenang ketan hitam 29,6 kkalori
2 centong santan mengandung lemak nabati 37,6 kkalori
1 centong air gula merah 24,2 kkalori
Total jumlah kalori yang dihasilkan 134 kkalori. Sebagian bubur ini mengalami metabolisme di dalam combustion dan dihasilkan sisa metabolisme, maka diasumsikan hanya 75% dari kalori bubur yang dirubah menjadi kalor dan 25% sebagai residunya. Jadi yang di rubah menjadi kalor sebesar 100,5 kkalori.
Sedangkan jarak (s) dari tempat menjual bubur ke koordinat saat merasakan lapar lagi adalah 1,2 km dengan waktu tempuh (t) 20 menit.
Jadi dari sini di dapatkan laju perjalanan (v) = s/t = (1,2x1000)/(20x60) = 1 m/s
Okey mari kita gunakan persamaan 3 untuk mengetahui berat badan saya. Cocokkah?
Karena energy bubur sum-sum ini mempunyai satuan kalori sedangkan energy kinetic (Ek) mempunyai satuan joule maka perlu ditambahkan dengan konstanta pengali 4,2 di sisi energy kinetiknya. Dasar konstanta pengali -> 1 joule = 0.24 kalori atau 1 kalori= 4,2 joule. Maka,
100,5 x 1000 = ½ x 4.2 x m x v2
m= (100,5 x1000)/(0.5x4.2x12)
m= 47800gram= 48 kg…… (apakah sesuai????????????????????)
ya saya berhasil menemukan postulat baru karena massa yang terhitung (sesuai teori) hamper sama dengan massa secara praktek (sebenarnya). Berat saya sebenarnya g jauh2 ko dari 48 kg Cuma nambah koma dibelakangnya hahahaha…
kalau masalah error perhitungan nanti dibahas belakangan..
*ngacir…..
By Asr
Tidak ada komentar:
Posting Komentar