Bagai bahtera yang membutuhkan dermaga untuk berlabuh
Begitupula dengan perasaan, membutuhkan orang yang tepat sebagai tempat labuhan akhir
Bergetar rasanya tangan ini, saat menuliskan entri-an satu ini.
Bertanya-tanya, tanpa bayangan siapakah dirimu, dimanakah dirimu, dan seperti apakah dirimu?yang sampai saat ini sesosok dirimu belum mampu ku gambarkan.
Namun, ketahuilan calon suamiku, kaulah lelaki pertamaku dan terakhirku, dan aku sudah mencintaimu sebelum aku tahu siapa dirimu, semua itu karena cintaku pada Dzat yang telah menganugerahkan perasaan cinta dan memberikan segalanya untukku, yaitu Allah Azza wa jalla. Hanya karena Dia lah aku mencintaimu, akupun berharap kamu pun juga seperti ini.
Calon suamiku, bagaimana iman dan taqwamu?
Semoga dipenantian akan pertemuan kita, Allah selalu memberikan tambahan iman dan taqwa kita.
Kemudahan dalam beribadah dan kemudahan dalam menerima kebaikan. aamiin yaa rabbal 'alamin.
Serta berharap seiring dengan waktu frekuensi hati kita sama. Dan kaupun siap menyempurnakan dienku.
Hallo calon suamiku... ( :D )
Sedang apa dirimu? Jika sekarang kau sedang menuntut ilmu semoga Allah memberikanmu kekuatan dan kemudahan dalam berfikir, dan menjadikan ilmu-ilmumu barokah dan bermanfaat, serta banyak-banyaklah berdoa karena doa penuntut ilmu tidak ditolak oleh Allah.
Jika saat ini kau sedang bekerja, bekerjalah dengan ikhlas dan carilah harta yang halal karena Allah memuliakan orang yang mencari nafkah yang halal.
Jika saat ini kau sedang merintis usaha, maka tekunlah dan percayalah kau akan berhasil. Ingat 99 pintu rezeki itu dari berdagang.
Jika saat ini kau sedang kesusahan menjemput pintu rejeki yang halal, semoga Allah memudahkan perjalananmu. dan bersabarlah karena saat ini kau sedang diuji, jangan putus asa dan berkeluh kesah yaa. :)
Namun ada yg ingin kusampaikan calon suamiku, bermimpilah dan berusahalah untuk menjadi orang sukses, dan kaya namun ingat harus yang mulia. Apa itu mulia? kesuksesanmu tidak hanya untuk dirimu namun kau dengan rela membaginya untuk orang lain, karena kau tahu jika saat ini kau berkecukupan bukan berarti itu hakmu semua, karena sebagian ada hak orang lain yang tak mampu di sana. Jadilah "tangan-tangan" Allah dalam menyalurkan nikmat-Nya.
Dan doa yang selalu kupanjatkan untukmu adalah agar Allah selalu memberikan kemuliaan untukmu di dunia dan di akhirat.
Calon suamiku jika saat ini kau sedang bersedih hati maka tetaplah bersabar, dan lihatlah sisi yang bisa membuatmu bersyukur. Jadilah orang yang selalu bersyukur dan bersabar, karena dua hal itulah kunci kebahagian dunia dan akhirat. Al khair kahirutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik.
Calon suamiku,
Terimakasih kau memilihku menjadi wanita yang akan menyempurnakan agama mu.
Namun jika perasaan itu datang, tolong jangan kau dekati aku dengan cara-cara "murahan" seperti halnya yang dilakukan pria-pria secara umumnya, mengajakku pacaran, telfon, sms, chating, yang sama sekali tidak ada manfaatnya, atau kau ganti kata "pacaran" dengan "ta'aruf", namun kau tetap melakukan seperti halnya dua sejoli yang pacaran, ingatlah pergantian nama baik untuk maksiat sama sekali tak merubah catatan malaikat Atid (red. tetap tercatat dosa). Atau cinta-cinta yang belum halal yang terbungkus nilai-nilai (yang sepertinya) Islami, seperti kau berusaha membangunkanku sholat malam, mengingatkanku puasa, berhijab yang syar'i, nengajarku ngaji, dll. Aku tak sanggup jika aku tahu semua amalku akan sia-sia karena semua riya' karena kamu. Biarkan majlis-majlis ilmu yang mengingatkan kita untuk menjadi lebih baik serta doa-doa yang kita panjatkan tanpa sepengetahuan kita yang akan membawakan rido' Allah. Simpan itu semua jika kita sudah halal, syah. :D (setuju???)
Yang aku inginkan jika perasaan itu datang, temui orang tuaku, katakan niatanmu untuk menikahiku (awas kalau kamu ngajak pacaran :D), jika aku dan orangtuaku setuju segera khitbah aku. Jika kau sudah khitbah aku bukan berarti aku milikmu seutuhnya, karena hanya dengan jalan pernikahanlah kau dan aku tak ada sutroh (pembatas), halal sudah cinta kita, cinta yang mampu membuat malaikat-malaikat cemburu saat kita berpandangan mesra.
Yang kuinginkan saat kita dalam satu bahtera....
Calon suamiku, aku ingin sebagian malam kita peruntukkan untuk bermunajab kepada-Nya. Saling membangunkan untuk berkholwat kepada-Nya. Dan semoga kita bisa shaum senin kamis bersama.
Calon suamiku, cintailah aku seperti cara Rasulullah mencintai Syayida Khadijah, yang tak pernah menikahi wanita lain sepanjang Syayida Khadijah masih hidup. Maafkan aku yang mengurangi hakmu untuk hal ini.
Dear calon suamiku,
Sholatlah kamu berjamaah di Masjid, cukup bagiku kau menjadi imam dalam sholat malam, ingatlah kewajibanmu tetap sholat di masjid dan berjamaah.
Berbaktilah kepada orang tuamu. Marahi aku jika aku menghalangimu untuk berbakti kepada orangtuamu terutama ibumu, karena kewajibanmu untuk berbakti padanya tak pernah hilang. dan insyaAllah aku pun akan siap berbakti kepada orangtuamu, karena orang tuamu adalah orangtuaku.
begitu pula dengan ibuku, aku tahu kunci syurgaku saat ini adalah berbakti pada mu, rido'mu adalah kunci syurgaku. Namun, ketahuilah berkat ibukulah aku seperti ini, beliau mengandungku, merawatku, mendidikku, mengasuhku, sungguh tega jika dimasa tuanya saat membutuhkan perhatian anaknya kau melarangku merawatnya. Jangan pernah melarangku untuk berbakti padanya, apalagi aku hanya tinggal memiliki beliau sebagai orangtuaku. Namun, aku percaya kau bukan lelaki seperti itu, justru kau akan mungkin lebih menyayanginya. aamiin.
Visiku...
Calon suamiku, inilah visi hidupku menikah denganmu.
Aku menikahimu bukan karena nafsu semata, namun karena kecintaanku pada Allah yang membuatku menikahimu.
Jika Allah mempercayai kita untuk memiliki keturunan, maka aku ingin kita didik dengan baik dan benar. Kita bangun pondasi iman yang kokoh untuk mereka.
Semoga kita dikaruniai keturunan yang mampu mengemban visi dakwah agama Islam dengan benar, keturunan yang membanggakan kita di dunia dan keberhasilan saat kita sudah tiada.
Semoga rumah tangga kita yang selalu diterangi dengan membaca Al Qur'an. Tak hanya membaca dan menghafal namun mentadaburi Al-Quran. Serta rumahtangga yang berdasarkan sunnah-sunnah Rasul.
Calon suamiku, kelak kaulah imam dalam rumah tangga kita, dan aku siap menjadi prajurit yang handal yang sami'na wa atho'na karena aku yakin setiap perkataanmu adalah baik bagiku, setiap nasehatmu adalah demi kemuliaanku, dan setiap perintahmu adalah surga untukku. Dalam peperangan pemimpin yang handal tanpa ada prajurit yang handal pula akan sulit memenangkan sebuah peperangan. Ingat calon suamiku karena misi kita memerangi syaitan dan hawa nafsu.
Calon suamiku, persiapkan dirimu saat ini untuk menjadi imam yang handal tersebut. Akupun mempersiapkan diriku untuk menjadi pranjurit yang handal. Semangat ya...
Aku di sini sedang bersabar menunggu waktu terbaik yang Allah berikan untuk bertemu denganmu. Aku yakin Allah akan memberikan lelaki luar biasa yang hebat untuk menjadi nahkoda dalam bahtera rumahtanggaku. Jika tidak di dunia kita bertemu semoga di akhirat kita bertemu.
(tp aku berharap kau suami dunia akhiratku)
Anna ukhibbuka fillah
Chiayi, Taiwan
Jumat 2014, 28 3...12.21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar