Minggu, 13 Maret 2011

Perjalanan Pencarian Beasiswa Pasca Lulus

Satu tahun yang lalu, 9 Februari 2010 alhamduliLlah saya lulus dari Teknik Elektro Universitas Brawijaya. Bingung mau dibawa kemana nantinya, tetapi sudah ada planning buat mencari beasiswa dan melanjutkan sekolah lagi, dan cita-cita itu tetap Jepang sebagai tempat berlabuh untuk menuntut ilmu. Menjadi internasional student di salah satu universitas di Jepang adalah impian saya sejak dulu, syukur-syukur kalau bisa di Tokyo University (angan-angan berlebihan hahaha). Siapa sih yang ndak ingin sekolah di Jepang, Negara yang maju dalam pendidikannya, belum juga kalau sudah mempelajari kulturnya yang unik, orang yang ramah-ramah, pekerja keras, disiplin dsbg. Yang terpenting Jepang peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, oleh karena itu tak jarang orang-orang Indonesia lebih berkarir cerah di sana dibandingkan di negaranya sendiri. Memang saya sudah menaruh hati untuk Negara ini, salah satu impian yang ingin saya realisasikan nantinya hehe.
Tiga hari pasca kelulusan, saya diberi tahu oleh teman untuk mendaftar online beasiswa Panasonic. Okelah saya ikut saja kan cuma online. Setelah buka situsnya, saya baca syaratnya dan tidak ada syarat yang memberatkan (tidak ada syarat toefl score). Hanya saja kuota untuk beasiswa ini 3 orang. Pendaftaran online ini cukup mudah kok dan masih belum dimintai dokumen-dokumen, hanya mengisi form yang telah disediakan, kira-kira hanya butuh waktu 5 menit saja untuk menjawabnya, jadi daftar saja, ndak usah ragu-ragu lagi.
Proses beasiswa ini dari jumlah pendaftar online diambil 100 setelah itu mengirim dokumen-dokumen dan diambil 12 dari seleksi dokumen tersebut. 12 orang ini berhak mengikuti tes selanjutnya di Panasonic yang terletak di Raya Bogor, Cibubur.
Dalam penantian pengumuman saya juga mencoba beasiswa Ajinomoto, beasiswa ini lebih ekstrim lagi, kuotanya hanya satu orang dan nantinya kuliahnya di Universitas Tokyo. But, semangat pejuang scholarship ini masih menggebu hanya bermodalkan nekad aja semua dicoba. Kalau ajinomoto langsung mengirimkan dokumen-dokumen berupa hardcopy dan softcopy. Dokumen yang dibutuhkan yaitu: form dari Ajinomoto, toefl, proposal riset, dua surat rekomendasi dosen, dan rekomendasi professor di universitas Tokyo bahwa professor tersebut mau menerima untuk menjadi dosen pembimbing/ menerima siswa tersebut melakukan riset di laboratorium yang dikepalai professor tersebut. Mulailah dengan memikirkan secara garis besar apa yang ingin saya riset nantinya. Munculah ide untuk membahas tentang MEMS, langsung saya searching laboratorium di Universitas Tokyo yang membahas tentang MEMS. Setelah dapat info tentang laboratorium, saya mencari alamat email dari professor pemimpin laboratorium tersebut. Kurang lebih saya mengirim ke lima professor dan yang merespon hanya satu professor yaitu Prof. Hiroyuki Fujita. Beliau membalas email saya, “I can’t find the attachment”..hahahaha..dodol banget ternyata saking semangat sampai-sampai saya lupa melampirkan CV dan transkrip akademik saya. Okey..okey don’t worry Asih, calm calm hahahha. Langsung saya balas dan mengirimkan lampiran yang dibutuhkan. Ternyata beliau merespon dengan baik dan kami mulai berbincang-bincang tentang rencana riset yang ingin saya ajukan nantinya, beliau malah memberi arahan untuk membahas tentang RF Switch MEMS. Oh, kepala punyeng, I never learn about MEMS, hanya sekedar tahu saja kepanjangannya MEMS, memang selama ini saya lebih mempelajari VLSI dibandingkan MEMS.
Perjuangan kedua adalah belajar tentang RF Switch MEMS  hohoho. Walaupun belum mengerti apa yang akan saya dirisetkan beliau sudah memberikan sinyal positif untuk menerima saya bekerja di laboratoriumnya dan beliau dengan senang hati mau menjadi my potential supervisor.
Pengumuman 100 besar Pansonic Scholarship, alhamdulillah saya termasuk dan salah satu dari 2 mahasiswa dari UB yang mewakili (jangan-jangan di UB emang hanya dua orang yang daftar) hehehe. Ada waktu 1 bulan untuk mempersiapkan semuanya. Memperbaiki nilai toefl, membuat proposal riset, mencari rekomendasi professor dan rekomendasi dekan kampus saya serta mengurusi banyak pasca kelulusan, wah benar-benar waktu yang untuk bernafaspun susah (lebay mode on hahaha). Sedangkan limit beasiswa Ajinomoto sudah menuju deadline, oh Ya Allah padahal belum ngerti sama sekali tentang RF Switch MEMS. Sudahlah ayo berjuang saja, jangan mengeluh itu yang selalu saya tanamkan dalam hati saya. “Ganbareba dekiru!” Bila berjuang pasti bisa. :)
Alhamdulillah have done, akhirnya saya kirim ke Ajinomoto dalam bentuk hard copy dan softcopy. Rasanya petir mau menyambar tidak lama saya kirim dokumen by mail. “Karena sedikitnya kuota yang kami terima, maaf untuk tahun ini UB tidak kami undang dalam beasiswa ini karena UB tahun kemarin sudah kami undang. Semoga kami bisa mengundang UB untuk berpartisipasi dalam beasiswa ini di tahun berikutnya.” Itulah bunyi email balasannya. Rasanya langsung lemes, sudah kalah sebelum bertanding hahahaha. Yang membuat saya marah kenapa tidak diberi tahu sejak awal untuk universitas tertentu. Membalas sakit hati karena perlakuan ajinomoto tadi, akhirnya saya melakukan mogok makan produk ajinomoto hahhaha (ga penting banget dan ga mungkin banget).  Saya langsung mengkabari Prof. Fujita bahwa saya telah gagal dalam beasiswa Ajinomoto dengan menyebutkan alasan tersebut, namun saya juga mengatakan kalau saat ini saya juga mendafttar beasiswa panasonic. dan beliau mendoakan saya semoga lolos PS. O never give up Asih, you still have Panasonic scholarship beib…haha.

Saya perbaiki lagi proposal riset saya, saya pelajari lagi tentang RF MEMS. Sampai tiba saatnya saya harus mengirim berkas-berkas tadi dan yeah saya kirim berkas saya dengan nilai toefl yang sangat kecil. L
Entah mengapa? apa yang saya pikirkan? saya lupa mengirim form, transkrip akademik, dan ijazah saya. Hanya proposal riset saja yang saya kirimkan, langsung derai air mata rasanya. Dan saya langsung menghubungi Pak Normanto (Kepala HRD bagian beasiswa), ternyata diperbolehkan mengirim terpisah. hapus air matamu segera kirim, jangan tunggu apa-apa lagi. ..to be continued...
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Wah semakin tipis saja harapan ini. Sampai tanggal yang sudah dijadwalkan untuk mengetahui siapakah yang menjadi finalis belum juga ada. pagi, siang, malam check email dan the result is nothing. Hehehe.. sudahlah emang bukan rejeki, sepertinya masih harus coba lagi tahun depan. Yeach sepertinya ready be jobseeker hehehe. Keesokan harinya, disenja sore ahri, isenglah saya melihat email. Dan terlihat jelas subject dari bapak Normanto, wah dag dig dug kenceng banget ni detak jantung. Tertulis “Kami sampaikan siapa-siapa yang kami undang menjadi finalis 12 besar beasiswa Panasonic”. Langsung download attachmentnya dan…taraaa… no urut 2 (karena abjad namaq A jd dapat no. 2).. Asih Setiarini. Alhamdulillah, heartbeat ini semakin kencang. Hehehhe lebay….
Mulailah perasaan minder bermunculan, waktu q liat siapa saja yang menjadi teman perjuangan ntar di meja hijau (saingan maksudnya) hehehe. Q liat satu persatu profil mereka lewat facebooknya, gile bener cing…gwe Cuma cecunguk rasanya hahaha. Masih banyak yang harus dipersiapkan, sambil nimang2 my strengthen ma my weakness, la ko banyak weaknessnya hehehe. Bahasa inggris masih basic tingkat tinggi (low level), research yang belum tau njuntrungannya ntr mw ngapain klo ketrima, intensitas ngobrol ma Prof ud ga sering lg, kynya beliau jg sibuk dan uda mulai bosan dengan saya hehe, belum juga bahasa jepang yang harus dipelajari lagi. Ahhh….gile syndrome GJ tingkat tinggi ni. Lagi2 peran keluarga apalagi Ibu dan pesan almarhum Ayah sebelum meninggal buat nerusin S2 seperti kakak saya selalu tertancap kokoh dipikiran saya, itu semua yang membuat saya bersemangat lagi dan ingin mencoba. Sahabat-sahabatku pun juga sangat mendukung. Beruntung sekali punya sahabat2 seperti mereka. Emang seharusnya saya mempersiapkan ini dari dulu, tp buat apa kata menyesal kalo nasi udah menjadi bubur tinggal bagaimana kita bisa mengolah buburnya jadi bubur ayam hehehe. dan tidak ada kata terlambat semua harus dijalani. Just Allah has a big plan for me.

Browsing2 tentang apa aja yang dilakukan waktu jadi finalis PS. Ketemu dah posted dari salah satu finalis yang gagal dapat beasiswa tapi akhirnya dapat beasiswa di Belanda. Wah wah wah gud job guys. Semoga bernasib sama, gpp gagal ke Jepang tapi bisa ke Ausie hehehe. (belum2 ko udah mikir gagal). List semua pertanyaan dan kira2 ntr njawabnya gini kalo dikasih pertanyaan ky gitu. Hehehe. Aking histerisnya sampai-sampai mimpi diusir ma orang Jepang hahahha…

Detik-detik harus mengikuti academi PS 2010 harus dilakukan juga, pertanyaannya adalah sudah siapkah saya? Selalu saya jawab belum belum dan belum. Ya Alloh beri kekuatan. Perjalanan menuju Jakarta the hot city dilakukan, kereta Gajayana pun mempunyai andil untuk proses perjalanan sang anak pencari ilmu ini. Lagi-lagi harus melakukan perjalanan sendiri tanpa ada teman. Hahha..untung saja ada teman SMA yang sekereta yang mau ke Jakarta juga buat nemui suaminya..wahahahaha suami?hahha mupeng.yeahhh.

Check in ke wisma hijau. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar