Kamis, 24 Februari 2011

A Journey at Al-Azhar



Malam yang sunyi, malam yang indah, sambil ditemani cerianya bulan sabit, genitnya kerlipan bintang serta senandung Zain Bikha yang merdu-menambah semangat gerakan jari-jari ini, belum pula sepotong roti abon maknyus-menambah tenaga ekstra untuk bergadang menyelesaikan tulisan ini. Itulah intermeso singkat untuk mendiskripsikan keadaan saat saya menulis note ini.
Mata berputar-putar, dahi mengkerut dan otak mulai bekerja mengingat memori-memori hari Sabtu kemarin. Hari penuh pelajaran hidup.

"Malam di arab seperti siangnya, panas menyengat setiap saat, memang aneh benar." Soundtrack Aladin ini memang sesuai untuk mendiskripsikan perjalanan saat itu. Perjalanan yang melelahkan, diiringi terik matahari yang menyengat, belum lagi nyasarnya dan segala pernak-pernik penghias perjalanan ini. Memang kesabaran perlu diuji terlebih dahulu sebelum kesabaran itu menguji diriku (kalimat ini benar-benar tidak ada interkoneksi yang bagus).
Ini adalah sebuah perjalanan dari hati nurani yang terdalam, yang merasa kesepian di kostan sendirian, yang baru merasakan bagaimana tinggal jauh dari keluarga, dan yang ingin segera merasakan mempunyai keluarga baru (mulai ngawur). Inilah perjalanan menuju Al-Azhar, bukan Al-Azhar yang di daerah Mesir, yang dijadikan rujukan tempat menuntut ilmu santri-santri (red tokoh utama) yang diceritakan oleh Habbiburrahman dalam novel-novelnya, tapi ini adalah Masjid Al-Azhar daerah Pattimura street dekat blok-M dan terletak di Jakarta Selatan.
“Masih jam 7.40, Untung belum telat”, gumam saya dalam hati. Masih ada waktu 20 menit, akhirnya saya putuskan untuk sholat tahiyatul masjid dan dhuha terlebih dahulu. Sambil tetep make mukena, nunggu sambil dzikir2 (klo inget, klo g inget ndomblong doang), juga sambil silaturrahmi ke temen-temen (red sms-an), dan sambil menikmati kesejukan rumah Allah ini, dan akhirnya mulai ingin tidur-tiduran di masjid (adegan ini jgn ditiru). Subhanallah, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan. Sambil merasakan similirnya kipas angin, tiba-tiba segerombolan orang datang dengan membawa kamera dan handycam, saya benar-benar kaget saya kira acara pengajian disini bakal jd acara live di salah satu station TV. Ternyata beberapa menit kemudian, di belakang ada sekelompok orang memakai baju kebaya dengan make-up yang rada menor, dan para pria memakai batik, stelan jas dll, serta ada satu pasangan memakai baju putih-putih, yeach bisa anda tebak! Ini adalah acara pernikahan. Waw, shocking me, langsung tanpa disuruh saya menghindari sorotan kamera saat itu. Saya takut pulang dari sini langsung berjejer di depan untuk sekedar meminta tanda tangan saya atau cuma take photo bersama saya (hehehe kepedean.com). Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, langsung saya sms teman saya yang memberi info ada kajian di Al-Azhar.

 “Mbak Nov, kenapa ndak ada acara pengajian, ko tambah akad nikah?” sms saya ke mbak Nova (teman kost saya).
 “Iya Sih, disitu sering ada nikahan, kamu berdoa aja ntar wktu ijab qobulnya, insyaAllah pintu Arsy dibuka dan waktu mustajabah dan dengerin khutbah nikahnya”. Sms balasan dari mb Nova.
“Iya mb, tau gitu ngaji dikosan ama mb aj hehehehe”. Mulai ga sabar.

Saya hanya merasa menjadi tamu tak diundang dan pulang tak diantar. Akhirnya saya putuskan untuk melihat acara akad nikah ini  sampai selesai buat belajar buat acara pernikahanq yang hanya tinggal menghitung detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun :D dan siapa tahu ngendon-ngendon liat ni acara berhadiah nasi soto atau rawon lumayan breakfast gretong :D (ngarep banget). Dalam sebuah penantian itu, tiba-tiba saya disapa seorang wanita separuh baya yang ada disebelah saya, yang senasib dengan saya sebagai tamu tak diundang, dia sedang menunggu putranya yang sedang tryout di Lab School. Ku lihat wajahnya, disekitar matanya tampak kecoklatan seperti mengisyaratkan wanita ini mengandung kelelahan dan sepertinya sering menangis (mulai insting sok tahunya muncul :D). Sebut saja namanya Bu Mita karena saya lupa namanya :p.
Beliau menanyai saya “Adik udah menikah?”
“(sambil senyum-senyum ga jelas) Belum Bu, doakan saya” jawab saya.
“Kalo ada orang ijab qobul, adik berdoa aja, insyaAllah doanya makbul” jawab bu Mita.
“Iya bu, ni saya sudah menyiapkan nanti mau doa apa” jawab saya sambil senyum-senyum.
Tidak lama kemudian acara ijab qobulnya segera dimulai. Mulailah saya menengadahkan tangan sejajar bahu, berdoalah saya (do’anya disensor). Setelah itu kami mulai asyik bercerita satu sama lain, tapi saya kebanyakan menjadi pendengar saat itu.
Bu Mita menceritakan masa mudanya yang sepertinya dia begitu menikmatinya. Dia menceritakan bagaimana dia memilih seorang pacar waktu itu, ada kriteria khusus yang harus dipenuhi yaitu bagaimana mobilnya, penampilannya, merk sepatunya, dll yang menurutku semua itu hanya dunia hehehe. Tentunya kalau criteria itu dapat dipenuhi, pujian-pujian dari teman genk di tempat kerjanya (salah satu Bank swata di Indonesia) akan keluar semua, tetapi kalau tidak, siap-siap telinga ini panas karena cibiran mereka. Begitulah kata bu Mita sambil mengingat-ingat masa mudanya. Jadi berfikir, bersyukurnya saya tidak mempunyai teman-teman seperti mereka, apa jadinya klo masuk genk itu, pasti udah jadi nasi urap-urap karena saya cenderung bukan materi yang saya pilih, hanya ROMANTIS (rumah, mobil, gratis hahahhaha). Ndaklah yang penting taqwa dan tanggungjawab, bukannya lebih terasa bahagia klo memulai semua dari nol bersama-sama (hehehe). Jadi factor materi hanya sebuah pelengkap, tapi syukur-syukur kalo diberi dua-duanya hahahahha. Kembali ke cerita bu Mita, dia juga bercerita kalau dia baru menikah umur 30an karena masalah memilih-milih criteria seperti itu dan terpaksa merasakan patah hati yang dalam karena terlalu mencintai pacarnya yang berkriteria sempurna secara materi. Akhirnya dia menuruti kata ibunya untuk tidak melihat lelaki hanya sisi materinya, asalkan dia baik dan keturunan jawa itu sudah cukup. Mobil biasa ndak masalah, nantikan juga bisa beli yang bagus. Begitu kata ibunya bu Mita. Dan dia juga menceritakan keadaan temannya yang sudah berumur 45 th tapi masih melajang lantaran belum mendapatkan criteria materi yang diinginkan.
Sekarang bahasannya adalah pasca menikah, bu Mita juga menjelaskan, bahwa seorang wanita haruslah banyak mengalah dan bersabar atas suaminya, karena itulah kunci kebahagiaan keluarga. Harus ada yang mengalah!!!
“Mengapa harus seorang wanita yang mengalah?” Tanya saya.
“Karena suami sudah bekerja mencari nafkah, dan kita wanita butuh suami kita” jawab beliau.
“Karena wanita lebih bisa me-manage perasaan, karena wanita tidak hanya logika yang dia gunakan, tapi hati dan perasaan juga mereka gunakan. Dan secara tidak langsung seorang ibulah harus lebih mengerti keadaan rumahtangganya, bagaimana tabiat anak-anaknya dan bagaimana celah suaminya, apa yang membuat suami bahagia dan apa yang tidak. Jika seorang wanita menghormati seorang suami karena sumber uang ada ditangan suami, lantas jika ada seorang wanita yang berpenghasilan lebih banyak apa yang terjadi dengan suaminya, apakah akan terjadi penindasan dengan suaminya.” Gumam saya. Yah intinya suami istri harus sinkron dah.
Beliau juga menceritakan, pernah durhaka kepada ibunya. Oleh karena itu, masalah yang dia hadapi pada anaknya sekarang menyadarkan akan akibat durhakanya pada ibunya dulu. Dan dia juga mengajarkan kepada saya, jangan sekali-kali menyakiti hati ibu kita, jangan sekali-kali menggunakan keegoisan akal kita yang merasa benar untuk melawannya, karena azab Allah atas anak yang durhaka itu sangat cepat sekali, walaupun sang ibu telah memaafkan. Kalau kita merasa benar, cukup dengan diam tidak berkomentar apapun daripada harus berkata kasar kepada mereka. Hmmm iya benar sekali.
 “Ya Allah terimakasih engkau telah mengingatkan saya dan memberi ilmu tentang menghormati orangtua lewat Ibu Mita.” 

Tak terasa sudah pukul 10.00, jadwalnya ngaji tafsir Qur’an. Kamipun beranjak dari tempat duduk menuju shaf depan. Dalam perjalanan pindah posisi, saya mendengar pembicaraan dua wanita yang sudah tua yang saling memamerkan umur mereka, terdengar jelas ada yang bilang berumur 56 th dan 72 th, langsung saya ikut nimbrung dan menyela pembicaraan mereka, “Saya umur 22 th” kata saya. Merekapun tertawa dan salah satu wanita yang berumur 72th menggandeng tangan saya.
“Ibu, kalau yang ngaji tafsir hadist dimana ya?” Tanya saya.
“Di bawah, di aula Buya Hamka.” Jawab ibu tadi.
“Apa perlu mendaftar?” Tanya saya lagi.
“Ndak usah, kita tinggal masuk, terus kalo ada kotak amal ya kita amal itu aja” jawab ibu menegaskan.Dari logatnya wanita ini asli Padang.
Sayapun memilih untuk duduk dekat beliau, siapa tahu banyak informasi yang bisa saya dapatkan. Saya tidak menyangka nenek ini sangat cerdas sekali, setiap pak Ustadz memberikan pertanyaan, nenek ini menjawab dengan benar walaupun dia hanya menjawab lirih, tapi saya didekatnya mendengar jelas. Saya pun ketika melihat beliau hanya tersenyum, dan beliau juga tersenyum. Nenek yang cantik sekali. Kemudian dia mulai menanyai nama saya, tinggal dimana, asli mana. Kami pun saling bertukar informasi biodata diri. Nenek ini namanya Azizah. Dan dia selalu membiasakan cucunya dengan memanggil andung. Akhirnya sayapun juga memanggilnya dengan andung Azizah. Memang benar-benar andung yang berwawasan luas. Dia menceritakan siapa Ir. Soekarno, siapa Soeharto, dan wanita-wanita siapa saja yang pantas disebut sebagai pahlawan. Dari dari perbincangan ini dapat disimpulkan bahwa sejarah Indonesia benar-benar banyak yang palsu. PALSU DAN MEMALUKAN!!
Ternyata andung juga sering membaca Koran Replubika, tentunya semua itu karena dia mempunyai cucu yang bernama Akbar yang sangat kritis sekali dalam menanggapi sejarah Indonesia dan selalu mengajak andungnya untuk berdiskusi. Saya mulai penasaran, siapakah ayah andung sebenarnya?
“Andung, kalau orangtua andung siapa? Apa hubungannya dengan Masjid Al-Azhar ini?” Tanya saya penasaran, karena andung juga tahu betul sejarah masjid ini.
“Ayah saya bukan siapa2, hanya seorang yang bermigrasi dari padang ke Jakarta, ayah saya hanya sahabat Soekarno, dan yang menyolati jenazah Pak Karno waktu meninggal, walaupun Pak Karno pernah memenjarakan ayah saya selama 3th, tapi ayah saya tidak pernah membencinya, karena beliau tetap menganggap Pak Karno sebagai sahabatnya.” Jawab andung dengan khas Padangnya.
“Berarti ayah Andung orang pemerintahan juga?” Tanya saya tambah penasaran
“Bukan” jawab andung singkat.
Namun akhirnya saya tahu siapa ayah beliau walaupun saya tahu sabtu depannya. Pada saat Ustadz membahas salah satu tokoh agama di Indonesia yang masyhur yang kitabnya banyak dijadikan rujukan para ulama. Kitab Al-Azhar karangan Buya Hamka, yah benar Andung Azizah adalah putri Buya Hamka. Subhanallah saya dipertemukan dengan seorang putri dari ulama yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk agama Islam.

Dan diakhir pertemuan saya dan andung, beliau mencium kening saya dan mengucapkan sampai ketemu hari sabtu depan ya tidak lupa salam dari bibir beliau terlantun sangat lembut.
Masjid Al-Azhar inilah saksi kebahagian saya hidup di kota metropolitan, disinilah tempat bertemunya orang-orang baik, tempat meneduhkan hati disaat galau, dan sebagai penawar disaat saya mulai bosan dengan kehidupan ini.

Al-Azhar, 29 Januari 2011
Al-Azhar kuukir sejarah indah di sini. :)

“Ya Allah rahmatilah kami seluruh umat muslim dan muslimah di dunia ini dan tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhoi aamiin yaa rabbal’alamin.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar