بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Ada sebuah kisah, seorang perampok yang sedang beroperasi di malam hari, yang mana pada hari itu Allah mentakdirkan dia untuk beroperasi di sebuah rumah yang di dalamnya terdapat seseorang yang sedang mendirikan sholat malam. Dalam sholatnya orang tersebut membaca sebuah surat yaitu Surat Al Hadid ayat 16, sampai dibacakan
bergetarlah hati perampok tersebut dan berfikir bahwa ini adalah waktunya, sudah saatnya dia mengingat Allah, kembali ke jalan yang benar. Hingga akhirnya perampok tersebut menjadi walilullah, begitu indah Allah memberikan jalan hidayah untuk perampok tersebut. Jadi teringat sebuah pesan: "Barangkali satu maksiat membawa kita ke syurga-Nya dan sebaliknya satu taat dapat mengantarkan ke neraka". Maksiat yang diiringi taubatan nasuha lebih baik dibanding ketaatan yang tak mampu menjaga hati dari ujub, riya', dan bangga diri. Tentunya akan lebih baik jika ketaatan yang dibarengi dengan ketaqwaan dan keikhlasan.
Berbicara tentang perkara hati, ada sebuah ayat ketika turunnya turunnya membuat para sahabat Rasulullah risau, khawatir, dan bahkan "protes", mereka merasa berat menerima isi dari ayat tersebut. Ayat tersebut adalah QS. Al Baqarah ayat 284 , yang menerangkan
Isi kandungan ayat tersebut ialah Allah akan memperhitungkan semua perbuatan termasuk prasangka yang ada di hati kita. Para sahabat merasa bahwa sangat sulit bagi mereka untuk menjaga apa-apa yang ada di dalam hati mereka. Jika para salafus sholeh merasa tak mampu menjaga kebersihan hati, apalagi kita? pantaskah kita bangga diri? Kerisauan dan kekhawatiran para sahabat membuat Rasulullah terdiam dan menangis karena Rasulullah tak mampu berbuat apa-apa, ini adalah mutlak perintah Allah. Sampai akhirnya Rasulullah bersabda Sami'na wa atho'na (Kami mendengar dan kami taat) dan jangan kalian seperti para ahlu kitab sebelumnya "kami mendengar dan kami mendurhakai", kemudian para sahabat menirukan perkataan Rasulullah "Sami'na wa atho'na" dan terus mengulang kalimat tersebut dengan derai air mata sampai akhirnya keadaan mulai tenang.
Kemudian turunlah QS. Al Baqarah ayat 285, "
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk
hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun
(kepada mereka)"
Berbicara tentang perkara hati, ada sebuah ayat ketika turunnya turunnya membuat para sahabat Rasulullah risau, khawatir, dan bahkan "protes", mereka merasa berat menerima isi dari ayat tersebut. Ayat tersebut adalah QS. Al Baqarah ayat 284 , yang menerangkan
"Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu
menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu
tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang
dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu".
Kemudian turunlah QS. Al Baqarah ayat 285, "
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Artinya: Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang
diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang
beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak
membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul
rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka
berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat
kembali”.
Seakan-akan ayat ini seperti video atau cerita yang diputar ulang tentang kejadian dimana mereka merasa berat dengan turunnya ayat 284, mulai kegelisahan mereka kemudian Rasulullah membimbing mereka dengan mengucapkn sami'na wa atho'na sampai ditutup dengan do'a ampunan atas kesalahan mereka yang tak mampu menerima apa yang Allah perintahkan.
Kemudian turun ayat yang terakhir QS. Al Baqarah (ayat 286) yang menghapus hukum ayat 284 tentang bisikan qalbu. Ayat tersebut merupakan ayat Nasikh Manshuk. Nasikh menurut bahasa berarti izalah (menghilangkan). Kata nasikh juga
dipergunakan untuk makna memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat
lain. Menurut istilah naskh ialah mengangkat (menghapuskan) hukum syara’ dengan dalil hukum (khitab) syara’ yang lain. Jadi disini Mansukh (Q.S Al Baqarah: 284) dinasikhkan dengan (Q.S Al Baqarah: 286).
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ
لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا
تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ
عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا
وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى
الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Artinya: "Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat
pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami,
janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan
kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana
Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami,
janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami
memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS. Al Baqarah 286)
Ayat 284 tetap dibaca tetapi hukumnya tidak berlaku. Sebuah pertanyaan
"mengapa ayat yang hukumnya tidak berlaku namun tetap dibaca?" Agar kita
sama-sama bisa mempelajari dan sama-sama tahu akan rahmat dan kasih
sayang Allah swt kepada umat Rasulullah Muhammad saw. Ada hal yang paling tampak jelas kasih sayang Allah di ayat tersebut bahwa Allah tidak hanya menghapus hukum menghisab bisikan/prasangka dalam qalbu kita, namun Allah juga akan memaafkan saat kita lupa dan salah. Maha Suci Allah sungguh besar kasih sayangmu.
Ulama menjelaskan jika kita ingin berbicara langsung kepada Allah swt (membaca Al Qur'an) dan Allah langsung menjawab saat kita membacanya yaitu saat kita membaca QS. Al Fatihah dan QS. Al-Baqarah 284-286, maka disunnahkan jika membaca setiap ayat tersebut ada jeda untuk berhenti sebentar (menghayati) karena seolah-olah Allah menjawab semua do'a yang terkandung di dalamnya.
Semoga bermanfaat tulisan ini dan menjadikan diri kita semakin cinta mentadaburi Al-Qur'an.
by Asr

Tidak ada komentar:
Posting Komentar